Postingan

Tembang

Tembang Khas Jawa Tengah 1.      Gambang Suling Gambang Suling termasuk lagu daerah Jawa Tengah. Lagu yang cukup populer ini karya dalang kondang Ki Narto Sabdo. Gambang Suling iku sawijining tembang dolanan , yaiku jinis tembang sing prasaja, biasa ditembangaké déning cilik , utamané ing padésan, sinambi dolanan bebarengan karo kanca-kancané. Lumantar lagu dolanan, bocah-bocah dikenalaké bab sato kéwan, sato iwèn, thethukulan, tetanduran , bebrayan, lingkungan alam, lan sapanunggalané.Kadhangkala tembang dolanan uga ditembangaké déning waranggana jroning swasana tinamtu ing pagelaran wayang kulit. Gambang suling ngumandang swarane tulat-tulit kepenak unine u. .nine mung nrenyuh ake bareng lan kentrung ketipung suling sigrak kendhangane Terjemahan : Bunyi suling berkumandang swaranya Tulat-tulit enak bunyinya Bunyinya hanya mengharukan Bersama kentrung ketipung suling Mantap bunyi kendangnya 2.      Gek...

Kethoprak

Gambar
Sejarah Kethoprak di Jawa Ketoprak merupakan teater rakyat yang paling populer di Jawa tengah, namun terdapat juga di Jawa Timur. Masyarakat Jawa Tengah/Timur umumnya sangat mengenal Ketoprak. Seolah-olah Ketoprak menjadi satu dalam kehidupan masyarakat di Jawa tengah dan mengalahkan kesenian lainnya seperti Srandul, Emprak dan kesenian rakyat lainnya. Ketoprak pada mulanya hanya merupakan permainan orang-orang desa yang sedang menghibur diri dengan menabuh lesung secara berirama diwaktu bulan purnama, dengan sebutan gejog. Kemudian ditambah dengan tembang (nyanyian) yang dilakukan bersama dengan orang kampung/desa yang sedang menghibur diri dan akhirnya ditambah dengan gendang, terbang dan suling, maka lahirlah Ketoprak Lesung, yang diperkirakan sekitar tahun 1887. Baru pada sekitar tahun 1909 untuk pertama kalinya dipentaskan Ketoprak yang berbentuk pertunjukan lengkap. Ketoprak pertama yang secara resmi dipertunjukan di depan umum, ialah Ketoprak Wreksotomo, yang d...

Purwakanthi

Gambar
PENGGUNAAN PURWAKANTHI DALAM PENYAMPAIAN PITUTUR   Pitutur dan ungkapan-ungkapan Jawa umumnya disampaikan secara ringkas, dengan padanan kata bersanjak yang pas sehingga terkesan indah sekaligus mudah diingat. Misalnya saja dalam mendidik anak kita kenal kata-kata “Asah, Asih dan Asuh”. Kalimat pendek terdiri dari tiga kata tetapi kalau dibahas bisa tidak ada habis-habisnya. Padanan dari “a, as dan h”, inilah yang disebut “Purwakanthi”. Kalimat pendek dengan padanan kata ini sekaligus menjadi identitas pitutur yang berasal dari bahasa dan budaya Jawa. Sebagai contoh: “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, kalimat yang indah dengan pitutur yang bermakna, tetapi menilik panjangnya kalimat, pasti bukan berasal dari budaya Jawa. Jenis Purwakanthi tidak banyak. Pada prinsipnya hanya ada tiga jenis Purwakanthi yaitu: a. Purwakanthi guru swara: Kalau yang runtut adalah “suara”nya (huruf hidup/vokal)....